Almarhum Bangun Sugito atau lebih akrab dikenal dengan nama Gito Rollies adalah seorang penyanyi sekaligus aktor yang terkenal khususnya di era delapan puluhan, dengan tampang urakan dan ugal-ugalan serta erat dengan kehidupan yang berbau maksiat, rasanya tidak mungkin seseorang bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang lurus dan bertaubat.
Seperti kata pepatah alim ulama mengatakan “tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, jika Allah sudah menghendaki maka jadilah”, mungkin itulah yang terjadi dengan sang legenda ini. Perubahan yang sangat hebat dirasakan oleh dirinya dengan memilih jalan taubat sebagai arah kehidupannya sebelum dia wafat.
Tidak ada yang akan menyangka dengan apa yang terjadi dengan perubahan Gito Rollies, kepergiannya yang meninggalkan tiga orang anak, yakni Puja Sugito, Bayu Sugito, dan Bintang Sugito. Sungguh membuat decak kagum dan rasa iri kaum muslimin yang bermimpi menyudahi akhir kehidupan dengan husnul khotimah (akhir yang baik), karena tidak semua manusia muslim bisa mengalami hal tersebut. Hanya orang-orang yang terpilihlah yang bisa mendapatkan kehidupan dan menyudahinya dengan kemenangan yang hakiki.
Perubahan dari kehidupan yang buruk ke kehidupan yang baik, atau disebut juga dengan “taubat” dalam islam. Adalah sebuah peristiwa yang personal dan momennya biasanya special, mungkin saja pada saat pelaksanaannya dilakukan dengan acara ceremony yang dihadiri oleh sejumlah umat dan tokoh petinggi yang menjadi saksi dari pertubatan tersebut. Akan tetapi hal itu hakikatnya hanya sebagai pelengkap yang sebetulnya bukanlah esensi dari pertaubatan itu sendiri.
Dalam pertaubatan, tanda yang paling penting adalah ia datang dengan kesukarelaan dan ketundukan yang penuh kepada keyakinannya. Memang ada factor yang mempengaruhi dari proses menuju pertaubatan itu, seperti factor eksternal misalnya keluarga, pasangan hidup, teman dekat ataupun musuh yang semuanya menjadikan titik balik dari kesadaran seseorang terhadap perilakunya yang dianggap menyimpang. Dan yang paling penting adalah sikap taubat itu muncul dari dalam jiwa yang terdalam untuk sukarela dan tunduk serta bersukur dalam pertaubatan itu sendiri. Bukan taubat namanya jika hal itu ada dalam situasi ketakutan dan paksaan.
Ataupun jika dikatakan “takut” yang disertakan dalam pertaubatan ini, bukanlah esensi takut dibawah tekanan atau ancaman dari mayoritas yang beringas. Akan tetapi sejatinya ketakutan yang timbul tersebut adalah akibat dari kesadaran penuh akan hari akhirat kelak.
Mantan rocker yang sekarang menjadi Da’i ini punya kisah menarik seputar riwayat pertobaannya. Lama sebelum ia sungguh bertobat ia mengaku suka diusik sebuah pertanyaan “remeh”. Dia sering heran melihat orang-orang yang berangkat ke masjid. Orang-orang itu tampak damai, mungkin juga bahagia pikirnya, melangkah berombongan, atau sendiri-sendiri, dalam diam, atau dengan senda gurau. Tapi wajah mereka, mengapa begitu kelihatan damai sekali.
“Ada apa dengan mereka, apa gerangan yang mereka temukan di masjid”. begitulah sang rocker bertanya-tanya, heran, barangkali takjub. Dan itulah benih awal pertobatan sejati. Perhatikan bahwa tak ada siapa pun yang menyuruh apalagi menakut-nakutinya untuk merasa heran dan takjub. Tapi jika begitu, lantas darimana muasalnya rasa heran dan takjub itu?
Maka kita sampai pada poin terpenting pembahasan. Ketika seseorang bertobat, sebetulnya yang terjadi bukanlah karena dia “berhasil” menemukan Tuhan, tetapi yang benar, Tuhanlah yang berkenan menemuinya. Tapi ini memang bukan perkara yang bisa dengan gampang diterang-jelaskan. Sebab pertobatan, seperti sudah disinggung di awal sekali, adalah sebuah peristiwa yang memang sangat sekali personal, dan spesial.
Dan karenanya ia menjadi sebuah momen yang meta-bahasa, sebuah momen di mana bahasa manusia tak bisa lagi terlalu jauh ikut campur. Dan memang, sesungguhnya di sana, pada momen itu, tiada diperlukan lagi kata-kata, dan bahasa. Seperti puisi sejati ditemukan dalam diam, dalam keheningan maha luas dan dalam. Begitupun ibadah yang sebenar-benarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar