Senin, Juni 15, 2009

Sang Rocker yang Taubat "Gito Rollies"

Almarhum Bangun Sugito atau lebih akrab dikenal dengan nama Gito Rollies adalah seorang penyanyi sekaligus aktor yang terkenal khususnya di era delapan puluhan, dengan tampang urakan dan ugal-ugalan serta erat dengan kehidupan yang berbau maksiat, rasanya tidak mungkin seseorang bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang lurus dan bertaubat.
Seperti kata pepatah alim ulama mengatakan “tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, jika Allah sudah menghendaki maka jadilah”, mungkin itulah yang terjadi dengan sang legenda ini. Perubahan yang sangat hebat dirasakan oleh dirinya dengan memilih jalan taubat sebagai arah kehidupannya sebelum dia wafat.
Tidak ada yang akan menyangka dengan apa yang terjadi dengan perubahan Gito Rollies, kepergiannya yang meninggalkan tiga orang anak, yakni Puja Sugito, Bayu Sugito, dan Bintang Sugito. Sungguh membuat decak kagum dan rasa iri kaum muslimin yang bermimpi menyudahi akhir kehidupan dengan husnul khotimah (akhir yang baik), karena tidak semua manusia muslim bisa mengalami hal tersebut. Hanya orang-orang yang terpilihlah yang bisa mendapatkan kehidupan dan menyudahinya dengan kemenangan yang hakiki.

Rabu, Juni 10, 2009

Sahabat Sejati Kurindu Padamu

“Opik … dipanggil kepala sekolah!” lagi-lagi namaku dipanggil. Aku sudah tahu apa yang akan disampaikan kepala sekolah. Bulan lalu bu Nyai wali kelasku memanggil menyampaikan salam untuk orangtuaku untuk segera membayar biaya SPP-ku yang sudah nunggak hampir 6 bulan. Sebulan sebelumnya bahkan bagian Tata Usaha sudah berkali-kali memanggilku hingga semua teman-teman tahu setiap kali aku dipanggil pasti urusannya dengan soal bayaran sekolah.
Sejak orangtuaku bercerai dan aku memutuskan untuk ikut ibu setahun yang lalu, kondisi ekonomi keluargaku memang semakin terdesak. Terlebih sejak ayah menyetop kiriman uang yang seharusnya menjadi kewajibannya 6 bulan lalu. Ibu yang hanya lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) menggunakan kemampuannya mengetuk satu persatu pintu orang-orang berada dan menawarkan jasanya untuk mengajar ngaji anak-anak mereka. Akibat kebutuhan yang mendesak itulah, ibu selalu kehabisan uang untuk biaya sekolahku, juga adik-adikku.
Ada Wicaksono, kami memanggilnya Sony, di kelas ia selalu menjadi biang keributan, sering membuat onar dan tidak jarang berbuat usil terutama kepada perempuan. Hampir semua anak dikelas tak menyukainya, selain ia juga sombong. Ia sangat suka pamer jika mempunyai barang-barang bagus yang baru dibelikan orangtuanya, seperti sepatu dan tas. Dilihat dari merk-nya sih, jelas tidak murah, bagus pula modelnya. Aku tak pernah iri kepadanya, hanya saja yang membuat aku membencinya lebih karena ocehannya setiap petugas tata usaha memanggilku. “Pinter-pinter nunggak …” atau sindiran lainnya.
Sore menjelang Ashar, dengan langkah gontai aku memasuki teras rumah. Kulihat ibu sedang menyapu lantai. Sejak dalam perjalanan pulang sudah kuputuskan untuk tidak menyampaikan surat panggilan kepala sekolah agar tidak menjadi beban pikiran ibu. Lagi pula mulai besok sampai minggu depan sekolah libur.
Satu minggu sesudah jadwal masuk aku masih belum mau ke sekolah. Aku ‘membohongi’ ibu dengan mengatakan bahwa libur sekolah diperpanjang. Hingga akhirnya Fauzan, seorang temanku datang dan mengajakku ke sekolah. Ada yang lain di sekolah, petugas TU yang biasanya tak pernah senyum kepadaku, hari ini begitu ramah. Di kelas, tak ada yang berubah kecuali Sony, teman-teman bilang ia telah berubah setelah mengikuti pesantren kilat selama liburan yang lalu. Tak ada lagi kesombongan dan sifat usilnya. Alhamdulillaah.
***
Itu dua belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku SMA kelas 2. Kini aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Yang kutahu cuma satu, Fauzan, teman sekolahku dulu kini menjadi salah satu staf dalam perusahaan yang aku dipercaya menjadi General Managernya. Satu bulan lalu saat acara syukuran dikantor atas dipercayanya aku menjadi GM, Fauzan membisikkan sesuatu yang membuatku menitikkan airmata. “Masih ingat Sony? Dia menjual tas dan sepatu barunya untuk melunasi tunggakan biaya sekolah kamu dulu” Subhanallaah …
***
Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta, ia mempunyai mata pandang yang mampu menembus relung kebisuan sahabatnya. Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.
Saudaraku, mungkin sepanjang perjalanan hidup kita pernah ada orang-orang yang menjadikan dirinya batu pijakan sehingga kita bisa melangkah maju dan lebih jauh. Meski cuma batu kecil, namun keberadaannya mungkin telah menyelamatkan kita dari jurang kejatuhan yang melumpuhkan. Sayangnya, seringkali kita tak pernah menengok batu-batu pijakan itu dan melupakannya. Wallahu a’lam bishsowaab (Bayu Gautama, teruntuk orang-orang yang telah pernah menjadi batu pijakanku)

KECIL-KECIL SUDAH PANDAI MENGATUR WAKTU

Pada suatu hari, Abdullah bermain bersama dengan anak-anak kecil sebayanya tiba-tiba Amiril mukminin Umar bin Al-Khotob melalui jalan di mana keduanya bermain. Jika melihat anak-anak sedang bermain, biasanya Umar selalu menanyakan apakah mereka telah menjalankan sholat atau belum. Jika sudah, Umar membiarkan mereka terus bermain. Namun jika belum, Umar memerintahkan mereka sholat dulu. Tatkala melihat Umar, anak-anak kecil itu lari meninggalkan tempat, sementara Abdullah tetap berada pada posisinya.
Umar berkata kepada Abdullah, “mengapa kamu tidak lari seperti seperti teman-temanmu?”
Abdullah menjawab, “tidak, wahai Amirilmukmini. Saya tidak melakukan kesalahan sehingga harus takut padamu. Jalan disinipun tidak sempit, jadi saya tidak perlu pergi dari sini untuk melapangkan jalanmu”.
Umar kembali bertanya, “Apakah kamu sudah sholat?”
Abdullah berkata, “Sudah wahai Amiril mukminin. Saya juga sudah membaca Al-Qur’an dan hadist yang wajib saya baca. Jadi, sekarang saya mengistirahatkan jiwa saya untuk mempersiapkan diri belajar pada waktu berikutnya.”
Umar berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anaku.